Home | KlatenTV | Ngenteg Linggih, Prosesi Pembersihan Pura Setia 20-25 Tahun Sekali
DCIM101MEDIADJI_0579.JPG

Ngenteg Linggih, Prosesi Pembersihan Pura Setia 20-25 Tahun Sekali

Bantul (klatentv.com)-Warga Hindu di Pura Jagatnatha Banguntopo, Banguntapan, Bantul menggelar upacara ‘Ngenteg Linggih’, Sabtu (12/10/2019). Upacara Ngenteg Linggih yang dilakukan saat ini merupakan kali pertama diadakan di Pura Jagatnatha Banguntopo dan digelar setiap 20-25 tahun sekali.

Pura Jagatnatha Banguntopo sendiri dibangun mulai 26 Juni 1974 dan diresmikan pada 22 Mei 1975 yang lalu. sehingga Upacara ini menjadi kali pertama sejak Pura ini berdiri. Ketua panitya Wayan T Artama menjabarkan, upacara ini bertujuan untuk melakukan revitalisasi pura yang sudah berdiri puluhan tahun.
Menurut kepercayaan agama Hindu, upacara ini sekaligus menjadi upaya untuk men-sthana-kan Ida Hyang Widi Wasa dengan segala manifestasinya dengan pelinggih yang telah dipersiapkan.

Upacara yang dilakukan kali ini mengikuti petunjuk Jnana Mana Karya yaitu Sulinggih yang di-haturi untuk memuput Karya dan besarannya. Atau dengan kata lain tingkat upacara di Pura Jagatnatha Banguntopo ini termasuk terbesar di wilayah Yogyakarta dengan tingkatan yang disebut sebagai Utamaning Madya.

Ketua Umum Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) DIY Drs. Ida Bagus Agung, MT menambahkan, Upacara Ngenteg Linggih ini merupakan rangkaian upacara terakhir yang dilakukan dalam proses renovasi Pura atau dalam kesempatan lain juga untuk upacara mendirikan tempat suci.

Sebelumnya juga telah dilakukan sederet rangkaian upacara seperti Ngeruak/Pamungkah, Nyukat Karang, Nasarin, hingga Memakuh dan Malaspas yang merupakan upacara membersihkan pelinggih dari kotoran-kotoran yang ditujukan agar Dewa/Bhatari berkenan melinggih tempat tersebut.

Selanjutnya upacara ini akan diteruskan dengan upacara Mendem Pedagingan sebagai lambang Singgasana Hyang Widi Wasa yang di-Sthana-kan ditempat suci tersebut.

“Adapun pedagingan yang nanti akan dimasukkan dalam pelinggih antara lain batu dan logam mulia yang terdiri dari lempeng emas, perak, tembaga dan berbagai logam lainnya,” tambahnya.

Di hari terakhir, dilakukan upacara di pantai parangkusumo.

Upacara ini juga mendapat bantuan dan dukungan dari, Staf Kepresidenan Arya Dwipayana, Bupati Badung Bali serta sejumlah pejabat yang dalam kesempatan tersebut turut menghadirkan perwakilan dari pemerintahannya untuk menyaksikan dan mengikuti upacara tersebut.