Home | News | Mahasiswa UGM Kenalkan Keripik Lele, Makanan Olahan Bernilai Gizi Tinggi

Mahasiswa UGM Kenalkan Keripik Lele, Makanan Olahan Bernilai Gizi Tinggi

Jogonalan (klatentv.com) -Naik turunnya harga ikan lele konsumsi membuat para petani ikan lele memutar otak untuk mengurangi kerugian, salah satunya membuat inovasi olahan makanan berbahan dasar ikan lele. Salah satu yang dikembangkan adalah makanan olahan berupa keripik lele yang merupakan salah satu produk yang dibuat untuk mengatasi turunnya harga lele.


Di bawah bimbingan para mahasiswa peserta KKN dari Universitas Gajah Mada (UGM) Yogyakarta, warga desa gatak, karangdukuh, jogonalan klaten berhasil memproduksi kerupuk berbahan dasar lele. Ide bermula dari pengamatan bahwa saat masa panen, harga lele lebih murah sehingga para petani lele merugi. Para mahasiswa pun berpikir untuk mengolah lele menjadi produk yang di minati berbagai kalangan serta memiliki nilai jual tinggi, salah satunya diolah menjadi kerupuk lele. Mereka mencoba sejumlah cara untuk membuat kerupuk lele hingga menemukan langkah-langkah untuk membuatnya dengan sederhana.
Proses pembuatan kerupuk ini dimulai dengan membersihkan organ dalam lele yang akan diolah. Kemudian, semua bagian lele dimasak dalam panci presto. Setelah dimasak hingga lunak, barulah di ambil dagingnya unutk dicampur dengan bumbu racikan dan diolah menjadi kerupuk.
Koordinator mahasiswa, nugraheni bakti mengatakan, mereka sudah membuat kerupuk lele untuk diuji cobakan sebelum diaplikasikan ke warga. Selain rasanya enak, kerupuk ini kandungan gizinya juga sangat tinggi Sehingga masyarakat menyambut baik kehadiran penganan ringan ini. Menurut para mahasiswa, Prospek kerupuk lele untuk dikembangkan sangat besar. hal ini didukung oleh ketersediaan lele sebagai bahan dasar yang cenderung melimpah dan harganya pun murah.

“Mereka lebih mudah memperolehnya karena di desa ini ada kelompok peternak ikan lele. Dan tahun depan kelompok pembudidaya ikan lele akana mendapatkan bantuan bibit lele sebanyak 3 ton. Inovasi ini kami harapkan dapat menjadi solusi meliompahnya ikan lele hasil panen”. Harap Nugraheni disela sela pemberian bimbingan kepada puluhan warga, Sabtu (4/8).

Sementara, salah seorang mahswa dari jurusan teknologi pangan dan hasil pertanian, luis alexander menjelaskan Ketertarikan masyarakat terhadap kerupuk lele buatan mereka kini semakin banyak. Setiap 100 gram kerupuk lele matang cukup dihargai Rp. 6000,

“Dengan mematok harga paling murah enam ribu rupiah, warga sudah mendapatkan keuntungan duan hingga tiga kali lipat. kami mahasiswa berharap apa yang sudah kami tularkan bermanfat dan kehidupan mereka lebih sejahtera.” Pungkas Luis.

Pihak Mahasiswa dan warga desa karangdukuh berharap, kerupuk lele dapat menjadi produk olahan dan oleh-oleh khas klaten di masa depan. Untuk itu warga berharap, ada perhatian pemerintah untuk mempromosikan produknya lebih gencar lagi untuk membantu menekan kerugian petani lele kecil saat harga anjlog.
Selain memberikan pendampingan pengolahan lele, di lokasi KKn desa karangdukuh ini para mahasiswa juga membuat cakruk pintar untuk anak dan remaja bermain mengenalkan pertanian, kelompok wanita tani serta kids farming mengenalka pertanian kepada anak anak desa karandukuh.

Leave a Reply