Home | News | 3 Siswa ujian nasional dengan huruf braile

3 Siswa ujian nasional dengan huruf braile

Klaten selatan (klatentv.com)–Hampir 18 ribu siswa tingkat sekolah menengah pertama SLTP dan madrasah tsanawiyah (MTs) mulai senin (9/5/2016) mengikuti ujian nasional. Di klaten ada tiga siswa luar biasa yang mengikuti un dengan huruf braile, rasa optimis yang begitu kuat terpancar meski dengan keterbatasan.

Frema marista aulia rahma tampak tenang meraba lembaran soal ujian nasional (un) yang diberikan kepadanya. jemarinya yang lentik, cekatan menyentuh lembaran soal matematika yang sudah diubah menjadi kombinasi huruf braille. Untuk mengisi lembar jawaban, siswa dibekali alat bantu tulis yang bentuknya mirip penggaris dan stilus yang fungsinya seperti pena, untuk melubangi lembar jawaban kertas.

Frema marista adalah satu dari tiga peserta un siswa sekolah luar biasa SMPLB A YAAT di klaten. Bagi siswa luar biasa ini, un bukan sekadar penentu kelulusan semata melainkan ajang pembuktian kemampuan. Ia berharap lulus sekaligus disejajarkan dengan siswa sekolah reguler lainya. Selain frema dua siswa tuna netra lainya khoiriyah dan yoga fitra pratama juga mengikuti ujian nasional di gedung sekolah luar biasa SMPLB A YAAT klaten selatan.

Rasa optimisme yang begitu kuat, terpancar dari keseriusan dan kesabaran dalam menjawab soal. Meski mereka kadang kesulitan membaca soal matematika yang disimbolkan ke braille. Beruntung, dua guru pengawas siap membacakan soal awas yang bobotnya sama dengan soal umum ini.

frema marista, salah satu siswa tuna netra membaca satu persatu soal braille menggunakan lentik jarinya

frema marista, salah satu siswa tuna netra membaca satu persatu soal braille menggunakan lentik jarinya

Tidak dimungkiri, kecemasan dalam menghadapi un juga menghinggapi namun ia optimistis lulus dengan nilai memuaskan. mereka ingin membuktikan, menjadi tunanetra bukan penghalang untuk sukses dalam pendidikan.
Kepala sekolah luar biasa SMPLB A YAAT, subagyo menyatakan siswa tunanetra pada dasarnya sama dengan siswa reguler, hanya saja mereka harus menggunakan braille huruf. “Braille merupakan jendela pengetahuan bagi kalangan tunanetra, berbagai informasi bisa ditransformasi untuk menjadi rangkaian braille. Bahkan rangkaian braille ini tidak memiliki batasan, satu simbol bisa mewakili huruf latin, huruf arab, dan kode-kode lainnya,” ungkapnya.