Home | SuaraPembaca | 03 Oktober 65…Prajurit Para Komando Diangkat dari Dasar Sumur

03 Oktober 65…Prajurit Para Komando Diangkat dari Dasar Sumur

3 Oktober 1965…..

Letnan Dua Sintong Pandjaitan.. masih mematung di dekat galian yang baru dibuka…. Suasana hening… angin bulan Oktober mendesir agak kencang….. entah apa yang di kepala komandan kompi ini…. berbagai tugas operasi berat pernah di jalaninya… tapi mencari beberapa atasanya yang di culik dan di bunuh…. adalah tugas sangat berat… dikejar waktu dengan kondisi pasukan yang sudah hampir 2 hari anak buahnya tidak tidur atau sekedar rehat… waktu adalah lawan mereka saat itu…

Tiba tiba di aera penggalian lubang terdengar teriakan… gaduh.. semua berlari tak terkecuali Letnan Sintong…..

“ pak orang kampung sekitar sudah menggali cukup dalam sekitar 6 sampai 7 meter… tak bisa lebih, baunya sudah menyengat!”….

tiba tiba salah satu anak buahnya menghampiri dan melapor kondisi penggalian……

“Ya sudah.. istirahat dulu, siagakan pasukan dan tetap waspada!”…. perintah sang Letnan …

Sang komandan Kompi melapor pada atasanya Letttu Faisal Tanjung….

Ya hari itu, 3 Oktober 1965 tiga kompi yang dipimpin Lettu Feisal Tanjung menyisir Desa Lubang Buaya di daerah Pondok Gede. Feisal lantas memerintahkan pasukan Letda Sintong Panjaitan menyisir sebuah daerah yang dijadikan latihan Pemuda Rakyat (PR), Barisan Tani Indonesia (BTI), dan Gerwani (organisasi massa di bawah PKI) dengan teliti.

Atas laporan penduduk, anak buah Sintong menemukan tanah di bawah pohon yang semula adalah sumur, tapi sudah ditimbun. Tempat itu kemudian digali secara bergantian oleh anggota peleton 1 RPKAD.

Ketika kedalaman sekitar dua meter, mereka menemukan timbunan daun-daun yang masih segar, batang pohon pisang, dan potongan kain warna merah, hijau, serta kuning. Potongan kain ini sejenis dengan kain yang dipakai sebagai tanda oleh Yonif 454/Banteng Raiders dari Jawa Tengah dan Yonif 530/Raiders Jawa Timur.

Beberapa warga setempat kemudian menawarkan diri untuk membantu penggalian sumur tersebut. Kebanyakan adalah orang yang biasa bekerja menggali kuburan. Setelah penggalian sekitar delapan meter, seorang penggali berteriak-teriak minta ditarik ke atas karena tak tahan bau busuk yang mengganggu pernapasannya.

Seorang anggota peleton 1 kemudian masuk ke dalam dan menemukan kaki yang mencuat ke atas. Di bawahnya ternyata terdapat jenazah. Sintong lantas melaporkannya ke Lettu Feisal Tanjung, kemudian secara berjenjang laporan itu sampai ke Pangkostrad Mayjen Soeharto.

Setelah mendapat kepastian itu, sekitar pukul 22.00 Mayjen Soeharto lewat radio menyuruh Kolonel Sarwo Edhie di Mako RPKAD, Cijantung, untuk menghentikan penggalian. Sebab, Soeharto ingin menyaksikan pengangkatan jenazah enam jenderal dan satu perwira pertama TNI-AD yang diculik pasukan G-30-S.

Peralatan oksigen untuk mengangkat jenazah mereka dipinjam dari KKo (Korps Komando, sekarang Marinir) AL. Pada 4 Oktober 1965, sekitar pukul 04.30, Komandan Kompi Intai Para Amfibi KKo AL Kapten KKo Winanto bersama satu tim tiba di Desa Lubang Buaya. Mereka terdiri atas delapan penyelam serta dua dokter. Yakni, dr Kho Tjio Ling dan drg Sumargo.

Setelah rapat kilat, jenazah para pahlawan revolusi itu akan diangkat dengan memakai tali. Peralatan selam dipakai secara bergantian oleh pasukan Kipam KKo AL, RPKAD, dan penduduk setempat yang ikut membantu.

Pukul 12.05, Kopral Anang, anggota RPKAD yang pernah mengenyam pendidikan selam di Kopaska ALRI, masuk ke sumur dengan oxygen mask. Ia berhasil mengikatkan tali ke salah satu korban. Setelah diangkat, jasad itu adalah Lettu czi Pierre Andreas Tendean, ajudan Menko Hankam/Kasab Jenderal A.H. Nasution.

Pukul 12.15, Serma KKo Suparimin turun dan mengikatkan tali pada salah satu jenazah, tapi tidak bisa diangkat karena berimpitan dengan jasad lainnya. Pukul 12.30, Pratu KKo Subekti berhasil mengikatkan tali ke salah satu jenazah. Ikatan tersebut berhasil mengangkat dua jenazah sekaligus. Yakni, jasad Mayjen Suwondo Parman (asisten I bidang intelijen Menpangad) dan Mayjen Soeprapto (deputi II Menpangad).

Pukul 12.55, Kopral KKo Hartono mengikatkan tali ke dua jenazah secara terpisah. Dua korban itu adalah Mayjen Haryono M.T. (deputi III Menpangad) dan Brigjen Sutoyo Siswomihardjo (inspektur kehakiman/oditur jenderal TNI-AD). Setelah beristirahat sejenak, pukul 13.30 Serma KKo Suparimin turun untuk kali kedua. Ia mengikatkan tali ke jenazah lain, yakni Letjen A. Yani (Menpangad).

Enam jenazah itu kemudian dibaringkan di peti mayat yang sudah disiapkan Rumah Sakit Pusat TNI-AD (RSPAD). Sementara pasukan dari KKo dan RPKAD yang ikut mengangkat jenazah pahlawan revolusi mulai kelelahan. Bahkan, ada prajurit pilihan yang muntah-muntah karena keracunan bau busuk yang menyengat.

Melihat anak buahnya kepayahan, Kapten KKO Winanto berinisiatif mengecek lagi ke dalam sumur untuk memastikan masih ada atau tidak jenazah lain. Alumnus AAL 1959 itu ternyata berhasil menemukan satu jasad lagi, yakni Brigjen D.I. Pandjaitan (asisten IV bidang logistik Menpangad).

Dengan demikian, lengkap sudah tujuh jenazah pahlawan revolusi yang diangkat dari sumur di Desa Lubang Buaya tersebut.

Sumber buku Sintong Panjaitan Perjalanan seorang Prajurit para Komando.

Beny Rusmawan